Salam yang Benar

Salam yang Benar
Semoga Bermanfaat

Jumat, 18 Januari 2013

MAKALAH PERKEMBANGAN PSIKOSOSIAL DEWASA TENGAH



Makalah Psikologi Perkembangan
“Perkembangan Psikososial Dewasa Tengah”
Dosen Pembimbing               : Dr. Yeniar Indriani ; Dra. Rohmatun, Psi
Disusun oleh                          :
1.      ERVIANTO                                      ( 072110998 )             
2.      ISNAWATI                                       ( 0721)            
3.      YUSRINA SABRINA MISRON    ( 0721)            
Fakultas Psikologi
Universitas Sultan Agung Semarang



KATA PENGANTAR

Alhamdulilah, puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan Rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah ini yang tepat pada waktunya yang berjudul “PERKEMBANGAN PSIKOSISAL DEWASA TENGAH
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
            Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga Allah SWT senantiasa meridhai segala usaha kita. Amin.



     Semarang,     Desember  2012

                                                                        Penyusun





i




BAB I
PENDAHULUAN

A.     LATAR BELAKANG

Pada umumnya usia madya atau usia setengah baya dipandang sebagai masa usia antara 40 – 60 tahun. Masa tersebut pada akhirnya akan ditandai oleh perubahan jasmani dan mental. Pada usia 60 tahun biasanya terjadi penurunan kekuatan fisik, sering pula diikuti oleh penurunan daya ingat. Walaupun dewsa ini banyak yang mengalami perubahan-perubahan tersebut lebih lambat dari pada masa lalu, namun garis batas tradisionalnya masih nampak. Meningkatnya kecenderungan untuk pensiun pada usia 60an sengaja atau tidak sengaja usia 60an dianggap sebagai garis batas antara usia lanjut dengan usia madya.
Seperti halnya periode lain dalam rentang kehidupan yang berbeda menurut tahap dimana perubahan fisik yang membedakan usia madya dini pada satu batas, dan usia lanjut di batas lainnya. Menurut pepatah kuno, seperti halnya buah apel, matangnya pun tidak pada waktu yang sama ada yang bulan juli, ada yang bulan agustus, dan ada pula yang bulan oktober. Demikian halnya dengan manusia.
Usia madya pada kebudayaan Amerika saat ini, merupakan masa yang paling sulit dalam rentang kehidupan mereka. Bagaimanapun baiknya individu-individu tersebut untuk menyesuaikan diri hasilnya akan tergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada tahap awal kehidupan, khususnya harapan tentang penyesuaian diri terhadap peran dan harapan sosial dari masyarakat dewasa. Kesehatan mental yang baik yang diperlukan pada masa-masa dewasa, memberikan berbagai kemungkinan untuk menyesuaikan diri terhadap berbagai peran baru dan harapan sosial usia madya.





B.     RUMUSAN MASALAH
1.      Apa saja model-model tahapan normative ????
2.      Apa saja pendekatan teoritikal yang di gunakan saat ini untuk mengetahui perkembangan identitas ????
3.      Factor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan di masa paruh baya ????

C.     TUJUAN dan MANFAAT
a.       Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      Ingin mengetahui apa saja model-model tahapan normative yang di gunakan untuk penelitian perkembangan dewasa tengah
2.      Ingin mengetahui apa saja pendekatan teoritikal yang di gunakan saat ini untuk mengetahui perkembangan identitas dewasa tengah
3.      Ingin mengetahui factor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan di masa paruh baya.

b.      Adapun manfaat dari pembuatan makalah ini adalah :
1.      mengetahui apa saja model-model tahapan normative yang di gunakan untuk penelitian perkembangan dewasa tengah
2.      mengetahui apa saja pendekatan teoritikal yang di gunakan saat ini untuk mengetahui perkembangan identitas dewasa tengah
3.      mengetahui factor apa saja yang mempengaruhi kesejahteraan di masa paruh baya.









BAB II
PEMBAHASAN

Perubahan pada usia paru baya : berbagi pendekatan teoretis klasik
Dalam istilah psikososial, masa dewasa tengah pernah di anggap sebagai masa yang relatif menetap. Freud (1906/1942) memandang tidak ada gunanya  psikoterapi bagi orang-orang yang berusia 50 tahun keatas karena ia meyakini kepribadian telah terbentuk secara permanen pada usia tersebut.
A.     MODEL-MODEL TAHAPAN NORMATIF
Dua ahli tahapan normatif awal yang hasil karyanya terus memberikan kerangka acuan bagi banyak teori dan penelitian perkembangan pada masa dewasa tengah adalah Carl G. Jung dan erik erikson.
1.      Carl G.jung : Individuasi dan transenden
Jung meyakini bahwa perkembangan paruh baya yang sehat menuntut individuasi (individuation), kemunculan diri sejati melalui keseimbangan atau integrasi bagian-bagian kepribadian yang bertentangan, meliputi bagian-bagian sebelumnya di abaikan. Sampai sekitar usia 20 tahun, jung berkata, orang dewasa memusatkan perhatian pada kewajiban terhadap keluarga dan masyrakat serta mengambangkan berbagai aspek kepribadian yang akan membantu  mereka mencapai tujuan eksternal. Perempuan menekan kan keekspresipan  dan pengasuhan; laki-laki berorientasi terutama terhadap prestasi. Pada usia paruh baya, orang-orang mengalihkan obsesi mereka kediri mereka yang spritual dan kebatihan. Baik laki-laki maupun perempuan mencari’penyatuan antitesis’ dengan mengungkapkan aspej-asoek yang’di sangkal’ sebelumnya.
Dua tugas yang penting tapi sulit pada masa paruh baya adalah menyerahkan citra masa muda dan mengakui kefanaan. Menurut jung (1966), kebutuhan untuk mengakui kefanaan memerlukan pencarian makna di dalam diri. Hal ini mungkin bisa membuat tidak nyaman; seriring dengan orang-orang mempertanyakan komitmen mereka, mereka bisa kehilangan kestabilan sementara. Namun orang-orang yang menghindari peralihan ini dan tidak melakukan orientasi ulang kehidupan mereka secara tepat kehilangan peluang pertumbuhan psikologi.




2.     Erik Erikson: Generativity Versus Stagnation
Erikson memandang usia sekitar 40 tahun sebagai masa ketika orang-orang memasuki tahap normatif ketujuh mereka, generativity versus stagnation.Generativity seperti yang di definisikan oleh Erikson, merupakan kepedulian orang dewasa yang matang untuk membangun dan membimbing generasi berikutnya,melanggengkan diri sendiri melalui pengaruhnya pada mereka yang mengikutinya. Orang-orang yang tidak memiliki saluran untuk generativity menjadi hanya tertarik pada diri dan kegiatanya sendiri, membiarkan dirinya apa yang ia suka, atau tersendat (tidak aktif atau tidak punya kehidupan).”Kekuatan” masa ini adalah kepedulian:” sebuah komitmen yang luas untuk mengsuh orang-orang,produk,dan ide yang sudah di pelajari untuk di asuh”(Erikson, 1985).
Bagaimana generativity muncul? Menurut sebuah model(Mc Adams,2001), hasrat dari dalam untuk kefanaan simbolis atau kebutuhan untuk di butuhkan di gabungkan dengan tuntutan eksternal (dalam bentuk pengharapan dan tanggung jawab yang meningkat).Ini,bersama-sama dengan apa yang di sebut Erikson sebagai “keyakinan dalam spesies,” mengarah pada komitmen dan tindakan yang generatif.
Erikson meyakini bahwa generativity tidak terbatas pada usia paruh baya.Generativity dapat diekspresikan tidak hanya melalui pola asuh, tetapi melalui pengajaran atau pembimbingan, produktivitas atau kreativitas,dan” produksi  sendiri,” atau pengembangan diri.Dalam Gandhi’s Truth,Erikson(1969) memperlihatkan bagaimana Gandhi- yang bukan merupakan ayah yang baik- muncul sebagai “ bapak negara” pada usia 49 tahun, mengungkapakan generativity dalam kepeduliannya terhadap kesejahteran seluruh bangsa.
Ahli teori yang belakangan muncul (Kotre,1984) membedakan empat bentuk spesifik generativity:
·         Biologis(mengandung dan melahirkan anak)
·         Orang tua(mengasuh dan membesarkan anak)
·         Teknis(mengajarkan berbagai keterampilan)
·         Budaya(menularkan nilai-nilai dan institusi-institusi budaya)
Terlepas dari bentuknya ujar Kotre,generativity dapat di ungkapakan dalam dua cara atau gaya yang berbeda:
1.      Komunal ( melibatkan kepedulian dan pengasuhan orang lain)
2.      Agentik ( Kontribusi pribadi kepada masyarakat-kreatif,ilmiah,atau kewirausahaan).







3.     Warisan Jung dan Erikson: Vailant dan Levinson
Berbagai ide dan pengamatan Jung dan Erikson mengilhami penelitian longitudinal pada laki-laki dari George Vaillant(1977) dan Daniel Levinson (1978).Keduanya peralihan besar pada masa paruh baya- dari memperjuangkan pekerjaan pada usia30-an keevalusi  kembali dan bahkan mengatur kembali kehidupan secara drastis pada usia 40-an ke kematangan dan stabilitas yang relatif pada usia 50-an.
Vaillant, seperti Jung, melaporkan diferensiasi gender yang berkurang pada usia paruh baya dan kecenderungan laki-laki untuk menjadi lebih mengasuh  dan ekspresif.Sebaliknya menurut Levinson,laki-laki pada usia paruh baya menjadi kurang terobsesi dengan prestasi pribadi dan lebih peduli dengan hubungan; dan mereka menunjukkan generativity dengan menjadi mentor bagi orang-orang yang lebih muda.
Vaillant juga mengumandangkan konsep memutar kedalam diri dari jung.Dalam usia 40-an, banyak dari sampelnya yang merupakan lulusan Harvard mengabaikan “ kesibukan pekerjaan mereka yang kompulsif dan tidak reflektif dan sekai lagi manjadi penjelajah dunia di dalam diri” (1977).
Bernice Neugarten ((1977) melihat kecenderungan introspektif yang serupa pada usia paruh baya, yang di sebutnya sebagai interioritas (interiority). Bagi laki-laki,menurut  Levinson, peralihan ke masa dewasa tengah cukup membuat stres sehinga bisa di sebut sebagai suatu “ krisis.”
Meskipun publikasi penelitian kecil mengenai perempuan setelah Levinson (1996) meninggal, modelnya dan model Vaillant di bangun pada penelitian kebanyakan laki-laki kelas menengah atau kelas atas yang pengalamanya di anggap sebagai norma.Lebih jauh lagi,berbagai hasil temuan mereka mencerminkan pengalaman –pengalaman anggota dari cohort di dalam budaya tertentu.Mereka bisa saja tidak berlaku dalam suatu masyarakat dimana kemaskulian dan kefeminiman tidak lagi memiliki makna yang berbeda, dan dimana pengembangan karier dan pilihan hidup bagi laki-laki dan perempuan menjadi lebih bervariasi dan fleksibel.Akhirnya berbagai penelitian ini khusus menangani kaum heteroseksual dan bisa tidak berlaku bagi kaum homoseks dan lesbian.

4.     Waktu Peristiwa : Jam Sosial
Untuk Cohort  yang di jelaskan oleh tahap penelitian normative dini, kemunculan dan waktu peristiwa besar cukup bisa di ramalkan. Saat ini,gaya hidup lebih beragam, dan sebuah “ daur kehidupan yang berubah-ubah telah di kaburkan oleh berbagai batasan masa dewasa tengah (Neugarten & Neugarten,1987) dan “ menghapus definisi lama mengenai jam social “ ( Josselson, 2003).
Ketika kehidupan perempuan hanya berputar di sekitar melahirkan dan membesarkan anak , akhir masa –masa reproduksi memiliki makna yang berbeda dengan yang maknanya saat ini,ketika banyak banyak perempuan usia paruh baya ( seperti Madeleine Albright ) memasuki dunia kerja.
Ketika orang-orang meninggal lebih dahulu, orang-orang usia paruh baya merasa dirinya tua,menyadari bahwa mereka juga  mendekati akhir dari hidup mereka. Saat ini , banyak orang usia paruh baya merasa dirinya lebih sibuk dan lebih terlibat di bandingkan sebelumnya ,beberapa masih membesarkan anak yang masih kecil, sementara lainnya mendefinisikan  kembali peran mereka sebagai orangtua bagi remaja dan dewasa awal dan sering kali sebagai pengasuh bagi ortu yang sudah lanjut usia.

B.   Perkembangan Identitas : Berbagai  Pendekatan Teoritikal Saat Ini
Meskipun Erikson menentukan pembentukan identitas sebagai perhatian utama masa remaja, ia memperhatikan bahwa  identitas terus berkembang. Bahkan ilmuwan perkembangan memandang proses pembentukan  identitas sebagai persoalan inti dari masa dewasa ( Mc Adams & de St. Aubin, 1992). Kebanyakan orang usia paruh baya memiliki kesadaran diri yang berkembang dengan baik ( Lachman ,2004). Mari kita melihat pada berbagai teori dan penelitian saat ini mengenai perkembangan identitas , khususnya pada masa paruh baya.

1.     Susan Kraus Whitbourne: Identitas sebagai  Proses
Asimilasi Identitas (identity assimilation) merupakan sebuah upaya untuk menyesuaikan pengalaman baru  ke dalam sebuah skema yang sudah ada ; Akomodasi identitas ( identity accommodation) merupakan penyesuaian skema agar sesuai dengan pengalaman baru. Asimilasi identitas cenderung menyebabkan perubahan yang  di perlukan.Kebanyakan orang menggunakan kedua proses ini pada kadar tertentu . Madeleine Albright, ketika di hadapakan dengan bukti bahwa ia terlahir sebagai  Yahudi, mengakomodasi skema identitasnya untuk memasukan ke Yahudinya, tetapi juga mengasimilasi pengetahuan barunya ke citra dirinya sebagai putri orang tua yang saling mencintai , yang melakukan segalanya untuk melindungi putrinya.
Keseimbangan yang biasanya seorang capai antara asimilasi dan akomodasi menentukan gaya identitas ( Identity Stile ) yang di milikinya.Seseorang yang lebih banyak menggunakan  asimilasi dari pada akomodasi memiliki gaya identitas asimilatif. Seseorang yang lebih banyak menggunakan akomodasi memiliki  gaya identitas akomodasi. Penggunaan yang berlebihan dari asimilasi dan akomodasi tidaklah sehat, kata Whitbourne.Orang-orang yang selalu mengakomodasi merupakan orang yang lemah,mudah goyah,dan sangat retan terhadap kritik ; identitas mereka dengan mudah melemah.Yang paling sehat adalah gaya identitas yang seimbang,dimana  identitas cukup fleksibel untuk berubah ketika aman ,tetapi terstruktur sampai pada satu titik dimana setiap pengalaman baru menyebabkan seseorang  mempertanyakan berbagai asumsi dasar mengenai diri mereka “ ( Whitbourne & Cannolly, 1999 ).

 Whitbourne melihat gaya identitas sebagaimana terkait dengan status identitas dari Marcia, contohnya sebagai seseorang yang telah mencapai identitas dalam istilah Marcia akan di harapkan memiliki gaya identitas yang seimbang, sementara seseorang yang berada dalam penyangkalan akan paling mungkin memiliki gaya asimilatif.
Menurut Whitbourne,orang-orang berhadapan dengan berbagai perubahan fisik, mental, dan emosional yang berhubungan dengan mulainya penuaan. Orang-orang yang asimilatif berupaya mempertahankan citra diri muda dengan segala daya upaya. Orang-orang yang akomodatif bisa melihat diri mereka mungkin secara premature sebagai orang yang sudah tua dan bisa menjadi terobsesi dengan berbagai gejala penuaan dan penyakit.

2.     Generativity , Identitas ,dan Usia  
Erikson melihat generativity sebagai sebuah aspek pembentukan identitas.Dalam sebuah penelitian Cross Sectional pada 333 perempuan, kebanyakan kulit putih lulusan University of Michigan, bagi mereka yang dalam usia enam puluhan , “ kepastian yang meningkat mengenai  identitas diri sendiri,  tingkat generativity yang paling tinggi, dan perasaan kekuatan percaya diri” berlangsung secara bersamaan ( Zucker, Ostrove dan Stewart, 2002 ).
Dengan menggunakan teknik-teknik seperti itu, para peneliti menemukan bahwa meskipun usia tercapainya generativity  pada individu bervariasi, orang-orang usia paruh baya cenderung mendapatkan  skor yang lebih tinggi pada generativity di bandingkan mereka yang lebih muda dan lebih tua ( Mc Adams, de St. Aubin,dan Logan,1993; Keyes dan Ryff,1998; Stewart & Vandewater,1998 ) dan secara umum perempuan melaporkan secara tingkat generativity yang lebih tinggi di bandingkan dengan laki-laki. Pada lansia, kepedulian generative laki-laki dan perempuan cenderung setara (Keyes &  Ryff ,1998 ).
Bekerja sukarela untuk layanan masyarakat atau tujuan politik merupakan ungkapan dari generativity komunal. Seperti teori Erikson ramalkan ,penelitian MIDUS menemukan bahwa bekerja suka rela meningkat antara masa dewasa yang sangat dini dan tengah.Kemudian sedikit menurun  setelah usia 55 tahun dan meningkat kembali setelah usia 65 tahun ( Hart Southerland, dan Atkins,2003 ). Sebuah penurunan dalam tanggung jawab utama keluarga dan pekerjaan bisa membebaskan orang-orang usia paruh baya dan yang lebih tua untuk mengungkapkan generativity dalam skala  yang lebih luas (Keyes & Ryff ,1998 ).Sebagaimana laki-laki dalam sebuah penelitian hibah Vaillant ( 1993 ) mendekati dan berpindah menuju usia paruh baya, proporsi yang meningkat dinilai talah mencapai generativity : 50 persen pada usia 40 tahun dan 83 persen pada usia 60 tahun.



Sebuah analisis terhadap  dua peneliian longitudinal terhadap perempuan angkatan 1964 dari Radcliffe College dan angkata 1967 dari UNIVERSITY of MICHIGAN menunjukkan bahwa, meskipun hasrat untuk generativity cenderung  bangkit pada masa dewasa awal, pencapaianya dan kesadaran akan kemampuan untuk generativity cenderung tiba pada masa paruh baya  ( Stewat dan Vandewater, 1998).
Generativity bias mengungkapkan dirinya sendiri  secara berbeda atau dengan waktu yang berbeda pada kaum homoseks dan lesbian , yang bisa membina hubungan yang intim atau menjadi orang tua di kemudian hari dari pada kaum heteroseksual yang biasanya memiliki atau tidak bisa pernah memiliki pengalaman ini. Banyak orang homoseks dan lesbian mengungkapkan generativity melalui aktifitas social (Cohler et al., 1998 ).

3.     Psikologi Naratif : Identitas sebagai  Kisah Hidup
Para psikologi naratif tertarik dengan perkembangan diri disengaja yang di pandu oleh tujuan jangka panjang yang mendukung  pertumbuhan pribadi. Berbagai tujuan pertumbuhan rentang kehidupan ini mungkin bisa bersifat eksploratif  ( ditujukan pada pemahaman diri dan orang lain yang matang dan rumit ) atau intrinsic ( ditujukan pada kesejahteraan atau kebahagiaan ) atau keduanya. Berbagai penelitian yang di dasarkan pada teknik naratif  telah menemukan bahwa orang-orang yang matang dan bahagia cenderung merencanakan masa depan mereka melalui tujuan pertumbuhan yang relevan ( Bauer & Mc Adams,2004 ) dan menyusun berbagai kenangan otobiografi mereka.orang-orang yang lebih tua cenderung lebih matang dan puas  dengan kehidupan mereka di bandingkan dengan kehidupan orang-orang dewasa yang lebih muda, sebagian karena mereka lebih cenderung menginterpretasikan berbagai kenangan mereka terkait dengan pertumbuhan pribadi ( Bauer, Mc Adams,2004 dan Sakaeda,2005 ).
Orang dewasa yang sangat generative sering kali menceritakan sebuah kisah komitmen (Mc  Adams et al.,1997).Biasanya orang-orang seperti itu telah menikmati kehormatan hidup dan ingin meringankan penderitaan orang lain. Mereka mengabdikan hidup mereka untuk perbaikan social dan tidak melenceng dari misi itu meskipun terdapat halangan yang serius,yang pada akhirnya memiliki hasil yang positif .Keteladanan moral mengatur kehidupan mereka diseputar kisah komitmen tersebut ( Colby & Damon,1992 ).







4.     Identitas Gender
Dalam banyak penelitian selama tahun 1960-an, 1970-an dan 1980-an, laki-laki usia paruh baya lebih terbuka mengenai perasaan mereka , lebih tertarik dalam hubungan yang lebih intim ,dan lebih mengasuh karakteristik yang secara tradisional dianggap feminism  dari pada masa-masa lebih dini , sementara usia paruh baya menjadi lebih asertif ,percaya diri dan berorientasi pada prestasi ,karakteristik yang secara tradisional  dianggap maskulin .Jung memandang berbagai perubahan ini sebagai bagian dari proses individuasi , atau keseimbangan kepribadian.
Peran gender tradisional ,menurut Gutmann, berkembang untuk memastikan kesejahteraan anak-anak yang sedang tumbuh .Sang ibu harus menjadi pengasuh ayah menjadi penyedia. Sesudah masa pengasuh berakhir ,tidak hanya terjadi keseimbangan  tetapi kebalikan peran suatu penyeberangan gender  (Gender Crossover).Laki-laki sekarang bebas  menjelajahi sisi “ feminism yang dulunya di tekan ,manjadi lebih pasif; perempuan menjadi lebih dominan dan mandiri.
Dalam masyarakat AS saat ini ,peran laki-laki dan perempuan menjadi kurang berbeda .Mengasuh anak,ketika banyak laki-laki mengambil peran yang aktif dalam mengasuh anak,dan ketika kehamilan tidak terjadi bahkan pada usia paruh baya, penyeberangan  gender pada usia paruh baya melihat kecil kemungkinannya ( Antonucci & Akiyama,1997; Barnett, 1997; James & Lewkowicz,1997 ).
Sebuah analisis data berurutan dari dua penelitian longitudinal  yang bersama-sama mengikuti orang-orang berusia 20,30,dan 40 tahun, kebanyakan laki-laki dan perempuan  berpendidikan, selama lebih dari dua dawarsa, menemukan perubahan terkait usia dalam hal kepribadian ,tetapi tidak ada penyeberangan gender . Baik laki-laki maupun perempuan menjadi lebih makin “maskulin “ (atau makin tidak “feminism”) selama usia dua puluhan ,tetapi tren ini menjadi samapada usia empat puluhan.Terlepas dari usia tua cohort ,laki-laki tatap lebih “maskulin” dari pada perempuan. 
Sementara kebanyakan lulusan dari penelitian Mills merasa masa awal empat puluhan mereka adalah masa yang kacau, pada usia lima puluhan mereka menilai kualitas hidup mereka  tinggi (Helson dan Wink,1992).Bagi perempuan modern yang masa dewasa awalnya telah memiliki fokus yang kuat pada karier, masa paruh baya bisa menjadi momentum untuk memperdalam atau kepedulian terhadap kebutuhan akan perasaan (josselson,2003).









C.     KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS DAN KESEHATAN MENTAL YANG POSITIF
Kesehatan mental bukan saja  merupakan ketiadaan penyakit mental. Kesehatan mental yang positif melibatkan suatau perasaan sejahtera dari sisin psikologis, yang berjalan beriringan ddengan perasaan sehat(keyes dan saphiro,2004;ryff dan singer,1998). Perasaan subjektif akan kesejahteraan, atau kebahagian, ,erupakan penilain seseorang akan kehidupannya (diener,2002), dan hal ini cenderung ini meningkat di masa paruh baya (lachman,2004). Bagaimana peneliti perkembangan menilai kesejahteraan, dan faktor-faktor apa saja yang memengaruhi  kesejahteraan di masa paruh baya?
1.      EMOSI
Banyak penelitian, termasuk survei MIDUS, menunjukan adanya penurunan secara bertahap dalam hal emosi negatif, seperti marah, takut dan gelisah, di masa paruh baya. Perempuan dalam penelitian MIDUS di  laporkan lebih sedikit memiliki emosi negatif di sepanjang rentan usianya, di bandingkan laki-laki (Mroczek, 2004). Berdasarkan penelitian MIDUS, emosi positif (seperti, gembira) meningkat secara rata-rata, di antara laki-laki, tetapi menurun di antara perempuan pada usia paruh baya, kemudian meningkat secara tajam di kedua jenis kelamin, tetapi khususnya laki-laki, di masa dewasa akhir. Pola umum dalam hal emosi positif dan negatif mengarahkan orang-orang pada usia paruh baya cenderung untuk belajar menerima apa yang terjadi dalam hidup meraka (carstensen,pasutpathi,mayr,dan nesselroade,2000) dan meregulasi emosi mereka secara efektif (lachman, 2004).
2.      Kepuasan hidup
Dalam sejumlah survei di seluruh dunia dengan berbagai teknik untuk mengakses kesejahteraan secara subjektif, kebanyakan orang di seluruh rentang usia, seluruh jenis kelamin, dan seluruh Ras, melaporkan merasa puas dengan hidup mereka (myers,2000;myers &diener 1995,1996;walker,skowronski & thomson, 2003). Satu alasan untuk temuan umum mengenai kepuasan hidup ini adalah bahwa emosi positif berkaitan dengan kenangan menyenangkan cenderung bertahan,sementara perasan negtif berkaitan dengan kenangan tidak menyenangkan memudar. Kebanyak orang memiliki keterampilan coping yang baik (walker at al.,2003). Setelah peristiwa bahagia atau menyedihkan, seperti pernikahan atau perceraian, mereka umumnya beradaptasi,dan kesejahteraan subjektif kembali ke, atau mendekati, tingkat awal (Lucas at al.,2003;dienner 2000).
Dukungan sosial –teman dan pasangan –dan faktor agama merupakan pemberi kontribusi penting bagi kebahagian (Csikszenmihalyi, 1999;dienner 2000; myers,2000;). Begitu pula dengan dimensi kepribadian tertentu-extraversion dan conscientiousness (mroczek & spiro, 2005; siegler dan brummett,2000)- serta kualitas pekerjaan dan waktu luang (csikszenmihalyi, 1999; dienner, 2000;myers,2000).
Apakah kepuasan hidup berubah seiring bertanbahnya usia?  Dalam sebuah penelitian longitudinal selama 22tahun terhadap 1. 927laki-laki, kebanyakan menjalani tugas militer selama perang dunia kedua atau perang korea, kepuasam hidup secra bertahap meningkat, memuncak pada usia 65tahun, dan kemudian secara berlahan menurun. Namun demikian, sekali lagi, terdapat perbedaan individual yang signifikan (mroczek & spiro, 2005).
3.      CAROLRYF : Dimensi kesejahteraan yang majemuk
Carolryf dan rekan-rekan sejawatnya (keyes & ryyf ,1999;ryyf,1995;ryyf dan singer,1998), mendasari dari cakupan para ahli teori seperti erikson sampai maslow, telah mengembangkan sebuah model yang mencakup enam dimensi kesejahteraan dan sebuah skala lapor diri, ryff wll-being inventory (ryyf & keyes, 1995) , untuk mengukur enam dimensi tersebut. Enam dimensi itu adalah penerimaan diri (self-accettance) hubungan positif dengan orang lain (positive relation with others), otonomi (autonomy) , penguasaan lingkungan (environmental mastery), tujuan hidup (purpose in life), dan pertumbuhan pribadi (personal growth).
Serangkaian penilitian cross-sextioanal yang menggunakan skala dari ryyf telah menunjukkan bahwa masa paruh baya sebagai masa yang umum nya memiliki kesehatan mental yang positif (ryyf & singer,1998). Orang-orang berusia paruh baya memiliki kesejahteraan yang llebih besar di banding kan orang dewasa yang lebih tua aray lebih muda dalam beberapa bidang,tetapi [ada bidang yang lain.
Mereka lebih memiliki otonomi di banding kan orang dewasa yang lebih muda, tetapi agak kurang bertujuan dan kurang fokus pada pertumbuhan pribadi dimensi orientasi masa depan yang menurunkan  bahkan lebih tajam pada masa dewasa akhir. Pada sisi yang lain, penguasaan lingkungan meningkat antara sua setengah dan akhir.  Penerimaan diri relatif stabil untuk semua kelompok usia. Tentu saja, karena penentuan ini bersifat cros-sectional, kita tidak menegtahui apakah perbedaan di karenakan faktor kematangan, penuaan,atau cohort. Secara keseluruhan, kesejahteraan laki-laki dan perempuan cukup serupa, tetapi perempuan lebih bahyak memiliki hubungan sosial yang positif (ryyf & singer , 1998).






4.      KESEJAHTERAAN SOSIAL
Kesejahteraan sosial-kualitas hubungan dengan orang lain, lingkungan sekitar, dan masyarakat yang di laporkan sendiri oleh seseorang  merupakan aspek lesehatan mental yang relatif tidak terkaji. Satu tim penelitian (keyes & shapiro, 2004). Melihat pada lima dimensi kesejahteraan sosial dalam sampel MIDUS: 1. Aktualisasi sosial, keyakinan pada potensi masyarakat untuk berkembang kearah yang positif; 2. Koherensi sosial, memandang dunia sebagai dapat di pahami, logis dan dapat di lemahkan, 3. Integrasi sosial, ,erasa sebagai bagian dari komunitas yang sportif 4. Penerimaan sosial, memiliki sikap positif dan menerima terhadap orang lain; dan 5.kontribusi sosial, meyakini bahwa seseorang , memiliki sesuatu yang berharga untuk di berikan kepada masyarakat.
Berbagai jawaban survei menunjukkan bahwa mayoritas orang dewasa A.S memiliki tingkat kesejahteraan sosial yang sedang bsampai tinggi, tetapi minoritas yang substansial, memiliki kesejahteraan sosial yang sangat rendah. Secara keseluruhan, kesejahteraaan sosial paling tinggi di antara laki-laki, orang-orang dengan status pekerjaan yang tinggi dan orang-orang yang menikah atau tidak pernah menikah. Kesejahteraan sosial paling rendah diantara perempuan, mereka dengan status pekerjaan yang rendah, dan mereka yang pernah menikah, cenderung memiliki status pekerjaan yang rendah.
5.      Generativity sebagai satu faktor penyesuaian dan kesejahteraan psikososial
Generativity , menurut erikson, merupakam ‘sebuah tanda kematangan psikologis dan kesehatan psikologis” (Mc Adams, 2001) generativity muncul sebagai keunggulan yang menentukan penyusuaian psikososial pada masa paruh baya, menurut erikson, karena berbagai peran dan tantangan pada masa ini- tuntutan pekerjaan dan keluarga-menuntut respon yang generatif.
Generativity, kemudian, bisa berasal dan keterlibatan dalam berbagai peran-sebagai kepala keluarga dan pemimpin dalam organisasi dan masyarakat (staudinger & bluck, 2001). Keterlibatan seperti itu telah dikaitkan dengan kesejahteraan dan kepuasan dalam masa paruh baya (Mcadams,2001) dan dalam kehidupan mendatang (sheldon & kasser,2001; Vandewater, ostrove, dan stewart,1997),mungkin melalui kesadaran telah berkontribusi secara bermakna kepada masyarakat. Namun demikian, karena sebagai temuan ini bersifat korelasional, kita tidak dapat yakin bahwa generativity menyebabkan kesejahteraan; mungkin orang-orang yang bahagia dengan hidupnya lebih mungkin menjadi generatif (McAdams, 2001).



BAB III
PENUTUP
A.     KESIMPULAN
Dalam istilah psikososial, masa dewasa tengah pernah di anggap sebagai masa yang relatif menetap. Freud (1906/1942) memandang tidak ada gunanya  psikoterapi bagi orang-orang yang berusia 50 tahun keatas karena ia meyakini kepribadian telah terbentuk secara permanen pada usia tersebut.
Para ahli teori humanistic seperti Maslow dan Rogers memandang masa paruh baya sebagai sebuah kesempatan untuk perubahan positif. Carl Jung memandang bahwa laki-laki dan perempuan pada masa paruh baya mengungkapkan aspek kepribadian yang sebelumnya di tekan. Dua tugas penting adalah menyerahkan citra masa muda dan mengakui kefanaan. Sementara menurut Erikson dewasa tengah berapa pada tahapan psikososial ketujuh yaitu generativity versus stagnation. Generativity dapat diungkapkan melalui pengasuhan dan menjadi kakek-nenek,mengajar atau menjadi mentor.
Berbagai persoalan dan tema psikososial yang penting selama masa dewasa tengah berkaitan dengan kehadiran krisis paruh baya,perkembangan identitas,dan kesejahteraan social.penelitian tidak mendukung krisi paruh baya normative. Lebih akurat untuk mengacu pada sebuah transisi yang sering kali melibatkan pengkajian ulang masa paruh baya,yang mungkin menjadi titik balik psikologis. Psikologi naratif menggambarkan perkembangan identitas sebagai proses mengkonstruksi kisah hidup yang telah berkesinambungan. Penelitian yang terbatas pada kesejahteraan social menyatakan bahwa kesejahteraan social cenderung tinggi pada masa paruh baya,tetapi sangat rendah di antara kaum minoritas yang substansial.











DAFTAR PUSTAKA
Diane E.Papalia,Sally Wendkos Olds, dan Ruth Duskin Feldman..Human Development,Jakarta : Salemba Humanika.





















Tidak ada komentar:

Poskan Komentar